Sabtu, 11 Juli 2009

20 Berkat

1. mengapa saya berkata "Saya tidak bisa" jika Alkitab mengatakan bahwa saya bisa melakukan segala sesuatu di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada saya (Fil 4:13)?

2. Mengapa saya merasa kurang jika saya tahu bahwa Allah akan memenuhi segala keperluan saya menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus (Fil 4:19)?

3. Mengapa saya harus merasa takut jika Alkitab berkata bahwa Tuhan tidak memberi saya roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, ketertiban (2 Tim 1:7)?

4. Mengapa saya harus merasa kurang iman jika saya tahu bahwa Allah telah mengaruniakan kepada saya ukuran iman tertentu (Rom 12:3)?

5. Mengapa saya menjadi lemah jika Alkitab berkata bahwa Allah adalah terang dan keselamatan saya dan bahwa saya akan tetap kuat dan akan bertindak (Maz 27:1, Dan 11:32)?

6. Mengapa saya harus membiarkan iblis menang atas hidup saya jika Roh yang ada di dalam saya lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia (1 Yoh 4:4)?

7. Mengapa saya harus pasrah kalah jika Alkitab berkata bahwa Allah dalam Kristus selalu membawa kita di jalan kemenanganNya (2 Kor 2:14)?

8. Mengapa saya harus kekurangan hikmat jika Kristus sendiri telah menjadi hikmat bagi saya dan Allah akan memberi hikmat jika saya minta padaNya (1 Kor 1:30; Yak 1:5)?

9. Mengapa saya harus depresi jika saya dapat mengingat bahwa saya dapat berharap pada Allah yang kasih setiaNya tidak habis-habisNya setiap pagi (Rat 3:21-23)?

10. Mengapa saya harus kuatir, resah, dan rewel jika saya dapat menyerahkan segala kekuatiran saya pada Tuhan yang memelihara saya (1 Pet 5:7)?

11. Mengapa saya harus selalu hidup dalam beban jika saya tahu bahwa di mana ada Roh Allah, ada kemerdekaan, dan Kristus telah memerdekakan kita (2 Kor 3:17; Gal 5:1) ?

12. Mengapa saya harus merasa terhukum jika Alkitab berkata bahwa saya tidak ada lagi di bawah penghukuman sebab saya di dalam Kristus (Rom 8:1) ?

13. Mengapa saya harus merasa sendirian jika Yesus berkata Ia akan selalu menyertai saya, tidak akan membiarkan dan tak akan meninggalkan saya (Mat 28:20; Ibr 13:5)?

14. Mengapa saya harus merasa terkutuk atau merasa saya menjadi korban nasib sial jika Alkitab berkata bahwa Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum taurat sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu (Gal 3:13-14) ?

15. Mengapa saya harus merasa tidak puas dalam hidup ini jika saya,seperti Paulus, bisa belajar untuk menjadi puas dalam segala keadaan (Fil 4:11) ?

16. Mengapa saya harus merasa tidak layak jika Kristus telah dibuat menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah (2 Kor 5:21) ?

17. Mengapa saya merasa takut disiksa orang jika saya tahu bahwa jika Allah di pihak saya tidak ada yang akan melawan saya (Rom 8:31) ?

18. Mengapa saya harus bingung jika Allah adalah Raja Damai dan Ia memberi saya pengetahuan melalui RohNya yang diam di dalam kita (1 Kor 14:33;2:12)

19. Mengapa saya harus terus-menerus gagal dan jatuh jika Alkitab berkata bahwa sebagai anak Allah saya lebih daripada orang-orang yang menang dalam segala hal, oleh Dia yang telah mengasihi saya (Rom 8:37)?

20. Mengapa saya harus membiarkan tekanan hidup mengganggu saya jika saya dapat punya keberanian karena tahu Tuhan Yesus telah menang atas dunia dan penderitaan (Yoh 16:33)? " Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah ! " (Mazmur 46:11a)

Rabu, 08 Juli 2009

Gelang Mutiara

"Mom, pliiiis.. beliin donk," kata seorang anak kecil kepada ibunya saat melihat gelang mutiara di stand aksesori.

Ibunya bertanya kepada wanita yang menjaga toko berapa harga gelang imitasi yang lucu itu.
"Duapuluh ribu bu, import dari Korea ," sahutnya.

Sang ibu berpaling lagi kepada si kecil manis yang sedang memandangnya dengan penuh harapan.
"Ok sayang, minggu depan kan birthday kamu. Kalau kamu jadi anak yang baik, taat dan cepat bobo malam, nanti Mama beliin ya."

Beberapa hari kemudian, pada hari ulang tahunnya yang ke-enam, dia dapat kado yang dinanti-nantikan itu, gelang mutiara! Dia sangat suka pada gelangnya itu dan memakainya dimana-mana, di gereja, di sekolah, bahkan di tempat tidurnya juga. Hanya pada saat dia sedang bermain baru dia melepas gelangnya itu. Mamanya bilang jika kena keringat gelangnya bisa berganti warna.

Dia mempunyai ayah yang baik sekali. Setiap malam sebelum si kecil tidur, pasti ayahnya datang ke kamarnya dan membacakan buku cerita untuknya.

Suatu malam setelah selesai satu cerita, Ayahnya bertanya, "Nak, sayang nggak sama Daddy?"
"Oh tentu saja, aku sayang Daddy."
"Kalau begitu berikan kepada Daddy gelang mutiara kamu ya."
"Hmm... jangan gelang saya, Dad," kata si kecil sambil tersenyum, "tapi kalau Daddy mau, bisa ambil boneka saya yang bisa nyanyi itu."
"Ngga apa-apa, nak," kata sang ayah, "Daddy sayang kamu. Good night."
Kemudian dia mencium anaknya.

Seminggu kemudian, setelah membaca buku cerita, dia bertanya lagi kepada si kecil, "Nak, sayang ngga sama Daddy?"
"Oh tentu saja, aku sayang Daddy."
"Kalau begitu berikan kepada Daddy gelang mutiara kamu ya."
"Hmm... jangan gelang saya, Dad," kata si kecil sambil tersenyum, "ambil saja boneka Barbie kesukaan saya Dad."
"Ngga apa-apa, sayangku," kata ayahnya, "tidur baik-baik ya. Tuhan sayang kamu dan Daddy juga."
Dan seperti biasa dia mencium anaknya.

Suatu malam, pada saat ayahnya masuk kamar, dia menemukan si kecil sedang duduk di tempat tidur dan sepertinya sedang menangis.
"Ada apa sayang?" tanyanya kepada anak tercinta yang tidak mengatakan apa-apa tetapi langsung mengulurkan tangan kepada ayahnya. Saat membuka tangannya itu, ternyata dia sedang memegang gelang kesayangannya.
"Daddy, ini untuk Daddy," Air matanya berlinang.

Sang ayah menerima gelang murahan itu dengan satu tangan dan dengan tangan yang lain ayahnya mengambil sebuah kotak kecil dari sakunya yang berisi gelang mutiara yang asli dan memberikannya kepada si kecil !!! Ternyata selama ini sang ayah sudah menyimpannya.

Dia hanya menunggu saat si kecil sudah rela menyerahkan gelang mutiara aksesori yg palsu itu supaya dia bisa memberikan gelang mutiara yang asli.

Sama juga dengan Tuhan kita.

Dia menunggu saat kita rela menyerahkan kepada-Nya apapun yang murahan dan tak berguna di dalam hidup kita supaya Dia bisa memberikan harta yang benar-benar indah dan berharga!
Tuhan sungguh baik, bukan?

Apakah anda masih berpegang erat pada sesuatu yang jelas Tuhan ingin anda lepaskan ?
Mungkinkah kamu masih berpegang pada sesuatu yang tidak benar, kebiasaan-kebiasaan buruk atau cara hidup yang jauh dari Tuhan dan amat sangat susah meninggalkannya?

Memang apa yang ada di dalam tangan Tuhan kamu tidak mengetahui, namun percayalah.. ..

DIA tak akan pernah mengambil apapun daripadamu tanpa menggantikannya dengan sesuatu yang jauh lebih indah dan berharga.

--- Unknown ---

Minggu, 05 Juli 2009

Still


Hide me now
Under your wings
Cover me
within your mighty hand

When the oceans rise and thunders roar
I will soar with you above the storm
Father you are king over the flood
I will be still and know you are God

Find rest my soul
In Christ alone
Know his power
In quietness and trust

--- Reuben Morgan ---

Sabtu, 04 Juli 2009

Don't Look at the Stone, but to the Rock

Sometimes as I walk the narrow path
I get to looking down at the stones
Then I see my weary feet
Kicking dust on my aching bones

Now my toes are blistered,cut
I can go no further today
I stumble and bumble upon a rock
Just in time to hear someone say

"Take my hand for I know the way
You're weak but I am strong"
I reached out and was lifted to HIS arms
We almost floated along

This is the way it always should be
Though my feet were blistered still
When I put my trust in the Master's hand
He helped me dance up that hill

It seemed like an impossible mountain before
With my eyes on the cutting stone
But after I lifted them to the mighty ROCK
It became a delightful path to His throne!!

--- Marijo Phelps ---

Onion

I was an onion before Christ set me free.
Layers upon layers of iniquity.
An ugly old onion whose fragrance was strong;
That my Jesus bought and loved all along.

Unknown to me what He was going to do.
Of what He was planning, I had not a clue.
Pulling each layer off one by one.
In order to make me more like Jesus the Son.

The first layer wasn't so bad.
I saw all the sins that I knew I had.
They were easy to fix, just change the way I talk.
And learn more of how He wanted me to walk.

Reading His Word, and learning again;
How to put aside my life of sin.
But the next layer was pulled which hurt more.
He was getting closer to the core.

Unknown what He would find there.
I simply gave it to Him in prayer.
As another layer was removed, He started to cry;
Pulling this layer brought pain to my Father on High.

And I was crying over the sadness I felt;
The brokenness and all of the guilt.
Past memories that I thought were gone;
They were buried under layers disguised in a fragrance so strong.

As onions peel more and more;
And they put tears in our eyes as we get close to the core;
So my Father wept over my pain;
Giving me a balm of comfort and strength to sustain.

"No More Layers." I would scream.
As He continued to peel them off of me.
"I'll have nothing left my Lord, what will I do?
I'll be nothing but a worthless core to you. "

But He just said "Trust me," and continued to peel
I was sure He was blinded to my pain that was so real.
Year after year I shrunk more and more;
Until all that was left of this onion was a core.

It was then that I began to understand;
As the Lord embraced me in His loving hand.
He said, now and only now can you be;
The creation that will minister before me.

Clothed with the righteousness only from above;
Gone are your layers of self so you can be filled with my love.
He took my layers of sin, hurt and pain;
And clothed me with love, truth and mercy in His name.

Yes, we are all onions, learning with each day;
How to overcome as each layer is taken away.
Some layers tear and pull at our heart;
While others grieve us to our innermost part.

But we are nothing but an ugly onion without Christ.
Layers upon layers of pride, sin and strife.
Only God can take those layers away.
And clothe us with His righteousness in that final day.

--- Unknown ---

Senin, 29 Juni 2009

Encouraging Quotation #1

Anda tidak berada di sini hanya untuk sekadar hidup. Anda berada di sini untuk memampukan dunia agar hidup lebih memadai, dengan visi lebih besar dan dengan semangat yang lebih halus atas harapan dan pencapaian. Anda berada di sini untuk memperkayakan dunia. Anda memiskinkan diri Anda sendiri jika Anda melupakan kekeliruan ini. – Woodrow Wilson.

It’s better to fail in originality, than succeed in imitation. – Herman Melville.

There are only two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle. The other is as though everything is a miracle. – Albert Einstein.

We don’t see things as they are. We see them as we are. – Anais Nin.

I am still learning. – Michaelangelo.

I am always doing that which I cannot do in order that I may learn how to do it. – Pablo Picasso.

Setiap waktu dalam kehidupan Anda dapat menjadi permulaan dari sebuah perkara yang besar. – Leo Buscaglia.

Jadilah baik, lebih baik; dan yang terbaik; jangan pernah berhenti sampai yang baik dari kita menjadi lebih baik dan yang lebih baik menjadi yang terbaik. – Anonymous.

Visi tanpa tindakan hanyalah sebuah mimpi. Tindakan tanpa visi hanyalah membuang waktu. Visi dengan tindakan akan mengubah dunia. – Joel Arthur Barker.

Jalan terbaik untuk bebas dari masalah adalah dengan memecahkannya. – Alan Sporta

Seseorang tanpa tujuan hidup bagaikan kapal tanpa kendali. – Thomas Carlyle.

Masa depan adalah milik mereka yang sungguh-sungguh hidup di masa kini. – Anonymous.

Sesuatu mungkin mendatangi mereka yang mau menunggu, tapi hanya didapatkan oleh mereka yang bersemangat mengejarnya. – Abraham Lincoln.

Sukses bukanlah akhir dari segalanya, kegagalan bukanlah sesuatu yang fatal, tetapi keberanian untuk meneruskan kehidupanlah yang diperhitungkan. – Sir Winston Churchill.

Tuhan tidak melihat medali, gelar maupun ijazah yang Anda miliki, melainkan Ia melihat bekas luka. – Elbert Hubbard.

Jangan biarkan kenangan hari kemarin membayangi langkah Anda pada hari ini. – Will Rogers.

Jika Anda takut dengan masa depan Anda, Anda tidak hidup di masa kini. – James Petersen.

Dia yang berani bertanya terlihat bodoh beberapa saat, tapi dia yang tidak berani bertanya akan menjadi bodoh selamanya. – Anonymous.

Tidak ada perkara besar yang diciptakan secara tiba-tiba. – Epictetus.

Langkah pertama untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan di dunia ini adalah: Putuskan apa yang menjadi keinginan Anda. – Ben Stein.

Putuskan untuk melakukan apa yang kau inginkan dan lakukan tanpa gagal apa yang sudah kau putuskan. – Benjamin Franklin.

Jangan biarkan ketakutan menghalangi hasrat Anda untuk mengejar pengharapan. – John F. Kennedy.

Seseorang dapat meraih kesuksesannya dalam segala hal bila dia memiliki semangat yang tidak terbatas. – Charles M. Schwab.

Anda mendapatkan yang terbaik dari orang lain apabila Anda memberikan yang terbaik dari diri Anda kepada orang lain. – Harry Firestone.

Untuk mengerjakan sebuah perkara besar, kita tidak hanya bertindak, tapi juga bermimpi; tidak hanya berencana, tapi juga percaya. – Anatole France.

Seseorang harus cukup berjiwa besar untuk mengakui kesalahannya, cukup bijaksana untuk belajar dari kesalahannya dan cukup kuat untuk memperbaiki dirinya. – John C. Maxwell.

Kehidupan seseorang menjadi berubah saat dia merubah dirinya. – Andrew Matthews.

Rabu, 24 Juni 2009

Empat Obat Mujarab

Seorang anak muda. Ia telah berusaha memberikan dasar yang kokoh bagi keluarganya. Namun ia menemukan kekosongan di dasar sanubarinya. Ia dilanda kecemasan dan kehilangan arah hidup. Semakin hari situasinya semakin parah. Ia memutuskan untuk pergi ke dokter sebelum menjadi amat terlambat.

Setelah mendengarkan keluhannya, dokter memberikan empat bungkus obat sambil berpesan; “Besok pagi sebelum jam sembilan pagi engkau harus menju pantai seorang diri sambil membawa ke empat bungkus obat ini. Jangan membawa buku atau majalah. Juga jangan membawa radio atau tape. Di pantai nanti anda membuka bungkusan obat sesuai dengan waktu yang tercatat pada bungkusannya, yakni pada jam sembilan, jam dua belas, jam tiga dan jam lima. Dengan mengikuti resep yang ada di dalamnya aku yakin penyakitmu akan sembuh.”

Orang tersebut berada di antara percaya dan ragu akan resep yang diberikan dokter. Namun demikian pada hari berikutnya ia pergi juga ke pantai. Begitu tiba di pesisir pantai di pagi hari, sementara matahari pagi mulai muncul di ufuk timur dan laut biru memantulkan kembali sinarnya yang merah keemasan itu, sambil deru ombak datang silih berganti, hatinya dipenuhi kegembiraan yang amat dalam.

Tepat jam sembilan, ia membuka bungkusan obat yang pertama. Tapi tak ia dapati obat didalamnya, cuma secarik kertas dengan tulisan: “Dengarlah.” Aneh bin ajaib, orang tersebut patuh pada apa yang diperintahkan. Ia lalu duduk tenang mendengarkan desiran angin pantai serta deburan gelombang yang memecah bibir pantai. Ia bahkan secara perlahan-lahan mampu mendengarkan setiap detak jantungnya sendiri yang menyatu dengan melodi musik alam di pantai itu. Telah begitu lama ia tak pernah duduk dan menjadi sungguh tenang seperti hari ini. Ia terlampau sibuk dengan usahanya. Saat ini ia merasa seakan-akan jiwanya dibasuh bersih.

Jam dua belas tepat. Ia membuka bungkusan obat yang kedua. Tentu seperti halnya bungkusan yang pertama, tak ada obat yang didapati kecuali selembar kertas bertulis; “Mengingat”. Ia beralih dari mendengarkan musik pantai yang indah dan nyaman itu dan perlahan-lahan mengingat setiap jejak langkahnya sendiri sejak kanak-kanak. Ia mengingat masa-masa sekolahnya dulu, mengingat kedua orang tuanya yang senantiasa memancarkan kasih di wajah mereka. Ia juga mengingat semua teman yang ia cintai dan tentu juga mencintainya. Ia merasakan ada segumpal kekuatan dan kehangatan hidup memancar dari dasar bathinnya.

Ketika ia membuka bungkusan ketiga saat waktu menunjukan jam tiga tepat, ia menemukan secaraik kertas dengan tulisan: “Menimbang dan menilai motivasi”. Ia memejamkam mata, memusatkan perhatiannya untuk menilai kembali niat pertama ketika ia membangun usahanya. Saat itu yang menjadi inspirasi utama ia membuka usaha adalah secara gigih bekerja untuk melayani kebutuhan sesamanya. Namun ketika usahanya kini telah memperoleh bentuknya, ia lupa hal ini dan hanya berpikir tentang keuntungan yang bakal diperoleh. Keuntungan kini menjadi penguasa dirinya, ia telah berubah menjadi manusia yang egoistis, serta lupa memperhatikan nasib orang lain. Ia kini seakan telah mampu melihat akar penyakitnya sendiri, ia menemukan alasan yang senantiasa membuatnya cemas.

Ketika matahari telah hilang dan bentangan laut berubah merah, ia membuka bungkusan obatnya yang terakhir. Di sana tertulis: “Tulislah segala kecemasanmu di bibir pantai.” Ia menuju bibir pantai, lalu menuliskan kata “cemas”. Ombak datang serentak dan menghapus apa yang baru dituliskannya. Bibir pantai seakan disapu bersih, kata “cemas” yang baru ditulisnya hilang ditelan ombak.

-------------------------------

Siapakah tokoh utama dalam kisah di atas??? Mungkin aku, mungkin pula anda. Pernahkah aku secara tulus mendengarkan bahasa bathinku sendiri? Atau pernahkah aku mengingat segala yang manis maupun pahit yang terjadi di masa silam namun telah membentuk siapa aku saat ini?? Apa yang menjadi motivasi utama hidupku hari ini dan besok?? Dan apa kecemasanku??

Mari kita menuliskan setiap beban dan kecemasan kita di atas salib kematian Yesus, Salib yang memberikan kekuatan. Sebab Ia sendiri pernah berkata; “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Mat 11:28)


--- Unknown ---